Beranda | Artikel
Detik-Detik Wafatnya Kekasih Tercinta
Jumat, 31 Agustus 2018

Artikel 1430 ini tersedia dalam bentuk buletin pdf siap cetak. Klik disini untuk mengunduh

Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad

Bismillahi washolatu wassalamu ‘ala muhammadin wa ‘alaa alihi wa shohbihi ajma’in. amma ba’du.

Setiap mahluk pasti merasakan kematian sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imron : 185). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak boleh tidak akan mengalami kematian. Berikut kisah akhir hayat beliau.

Permulaan Sakit

Pada hari Senin 29 Safar 11 H, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ikut mengantar jenazah salah seorang sahabatnya di Baqi’ (salah satu tempat pemakaman di Madinah). Ketika beliau pulang—dalam perjalanan—beliau merasakan sakit kepala, demam meninggi, sampai  para sahabat mendapati wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pucat. Beliau sholallahu ‘alaihi wa sallam mengimami para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari, total hari sakit beliau selama 13 atau 14 hari (Arohiqul Makhtum,426).

Beberapa hari sebelum wafat

Pada hari Sabtu, tubuh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat lemah, beliau keluar rumah dibantu bersama kedua orang sahabatnya untuk solat dhuhur. Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengimami kaum muslimin, tatkala Abu Bakar melihat beliau, ia mundur untuk mengakhiri solatnya. Kemudian Rasulullahmemberi isyarat agar Abu Bakar tidak mengakhiri solatnya, kemudian beliau bersabda (pada dua sahabat yang membopongnya): dudukkan aku di sampingnya, kemudian mereka mendudukkan di samping kanan Abu Bakar, lalu Abu Bakr mengikuti solat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dan para makmum mendengar takbirnya. (HR. Bukhari)

Sehari sebelum wafat—hari Ahad—Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam membebaskan budaknya dan mensedekahkan 7 dinar untuknya serta memberikan senjatanya untuk kaum muslimin. Pada malam hari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminjam minyak untuk lampu kepada tetangganya, dan menggadaikan baju besi nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam pada orang Yahudi dengan 30 sha’ (1 sha’=sekitar 2.5kg) gandum. (Ar-rahiqul Makhtum, 429)

 

Hari Terakhir

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan tentang hari tersebut, “Saat mereka menjalankan shalat Shubuh pada hari Senin, sementara Abu bakar mengimami mereka, tidak ada yang membuat mereka terperanjat kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyingkap tirai kamar Aisyah dan melihat mereka berada di barisan shalat. Kemudian beliau tersenyum dan tertawa.Lalu Abu Bakar hendak mundur ke belakang untuk masuk shaf karena mengira Rasulullah akan mengimami mereka.”

Anas menambahkan, kaum muslimin hampir-hampir membatalkan shalatnya karena diliputi suka cita mendalam atas kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka menyelesaikan shalat. Lalu beliau masuk kamar dan menutup tirai (HR. Bukhari).

Kemudian Rasulullah tidak datang dalam solat yang lain, pertanda itu adalah shalat terakhir dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat Dhuha tiba, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanggil Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau membisikkan sesuatu kepadanya kemudian Fathimah menangis. Lalu beliau memanggilnya kembali dan membisikkan sesuatu kepadanya maka Fathimah tertawa.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dan menanyakan tentang apa yang dibisikkan oleh Rasulullah pada Fathimah—setelah rasulullah telah tiada—Fathimah menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membisikkan kepadaku bahwa beliau akan wafat pada sakit yang dideritanya itu, maka aku menangis. Kemudian beliau membisikkan kepadaku bahwa aku orang pertama dari keluarganya yang akan menyusulnya , maka aku tertawa.” (HR. Bukhari). Dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Fathimah akan menjadi pemimpin wanita seluruh alam.

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memanggil Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma lalu mencium mereka, dan memberi nasihat kebaikan kepada keduanya, serta memanggil istri-istri beliau dan memberikan nasihat dan pesan kepada mereka.

Kemudian sakit yang diderita rasulullah semakin parah, pengaruh racun yang rasulullah telan telah nampak kemudian beliau bersabda: Wahai ‘Aisyah, aku senantiasa merasakan nyeri akibat makanan yang aku makan ketika aku berada di daerah Khaibar, dan sekarang ini adalah saatnya urat nadiku terputus karena pengaruh racun itu

Lalu beliau menasihati para sahabat, “jagalah solat jagalah solat dan budak-budak kalian” kemudian beliau mengulang beberapa kali. (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-albani)

Masuk detik akhir kehidupan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallamdengan ditemani ‘Aisyah yang menyandarkan suaminya ke dirinya. Aisyah menceritakan, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepadaku adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di rumahku, di hari giliranku, dan di dadaku. Allah mengumpulkan ludahku dan ludahnya saat kematiannya.”

Saat Rasulullah di bilik ‘Aisyah tersebut, masuklah Abdurrahman bin Abu Bakar, di tangannya terdapat siwak. Dan aku sedang menyandarkan tubuh Rasulullah di dadaku, aku melihat beliau memandangi kayu siwak yang ada di tangan Abdurrahman, sehingga aku paham bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Segera aku bertanya kepada beliau: aku mintakan siwak itu untukmu? Beliau menaganggukkan kepalanya. Segera aku mengambilnya dari tangan Abdurrahman dan aku serahkan kepada beliau, namun ternyata kayu siwak itu terasa keras bagi beliau segera aku bertanya kepada beliau: apakah engkau mau aku lunakkan terlebih dahulu kayu siwak itu? Kembali beliau mengangguk.Akupun segera melunakkan kayu siwak itu dengan gigiku, setelah lunak aku berikan kepada beliau dan beliau bersiwak dengannya.

Kemudian beliau mengangkat tangannya, memandang tajam ke atap, dan menggerak-gerakkan kedua bibirnya. Aisyah menyimaknya. Beliau bersabda,

“Bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Ya Allah, ampuni aku, rahmati aku, dan kumpulkanlah aku bersama ar-rafiqul a’la (teman tertinggi). Ya Allah, pertemukanlah aku dengan ar-rafiqul a’la.” (HR. Bukhari)

Beliau mengulang kalimat terakhir sampai tiga kali. Itulah kata-kata terakhir beliau. Kemudian tangan beliau jatuh terkulai dan berjumpa dengan ar-rafiqul a’la. Inna Lillaah wa Inna Ilaihi Raji’un.

Peristiwa ini terjadi pada waktu Duha di hari Senin 12 Rabi’ul Awal 11 H. Maka telah sempurna apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan genap umur beliau 63 tahun 4 hari. (Ar-rahiqul Makhtum, 431)

Reaksi para sahabat

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat.Dunia terasa gelap bagi mereka.merekasangat bersedih karena berpisah dengan kekasih terpilih. Hati-hati mereka galau.Tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada.Hingga di antara mereka menyanggahnya.(Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 8/146).

Telah sampai kabar itu kepada Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian beliau berkata: Sesungguhnya lelaki dari kaum munafik mengisukan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat,sesungguhnya Rasulullah tidaklah wafat, akan tetapi beliau pergi untuk menemui Rabbnya sebagaimana Musa bin Imron ‘alaihi salam pergi dan meninggalkan kaumnya selama 40 hari, kemudian kembali kepada mereka setelah diisukan bahwa Musa telah wafat. Demi Allah Rasulullah akan kembali dan akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka yang mengisukan bahwa ia telah wafat. (Ibnu Hisyam, 2/655).

Abu Bakar yang berkendara dengan kudanya tiba dari kediamannya di Sunh, kemudian turun dan memasuki masjid tanpa berbicara pada orang lain. Ia masuk ke rumah ‘Aisyah menuju tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditutupi oleh sehelai kain. Ia menyingkap kain yang ada di wajah beliau, menunduk kemudian menciumnya dan ia pun menangis. Lalu ia berkata: “Meskipun dengan bapak dan ibuku engkau kutebus, Allah tidak mengumpulkan padamu dua kematian, sedangkan kematian yang telah ditetapkan padamu telah ditentukan dan kau jalani.”

Kemudian Abu Bakar keluar sementara Umar tengah berbicara di depan para sahabat, lalu ia berkata: “Wahai Umar, duduklah!” Umar pun enggan untuk duduk, kemudian orang-orang menatap Abu Bakar dan berpaling dari Umar. Lalu Abu Bakar berkata: “Amma ba’du, Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam maka sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, Maka Allah sesungguhnya hidup dan tidak mati. Allah Ta’ala berfirman “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”(QS Ali Imran 144).

Ibnu Abbas menyebutkan, “Demi Allah, pada waktu itu, semua orang tampak seakan – akan tidak pernah tahu bahwasanya Allah telah menurunkan ayat tersebut kecuali setelah Abu Bakar membacakanya. Kemudian mereka semua menyambut ayat itu sehingga aku mendengar ayat itu dibacakan oleh semua orang tanpa terkecuali.”

Ibnu Musayyab meriwayatkan bahwa Umar mengatakan, “Demi Allah, aku tidak ingat ayat itu kecuali setelah Abu Bakar membacanya. Saat itu aku tercengang sampai – sampai aku merasa kedua kakiku tidak membawaku lagi. Ketika itu aku limbung ke lantai setelah mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku baru yakin bahwa Nabi saw. Benar telah wafat. ” (HR. Bukhari).

Referensi:

Ar-rohiqul Makhtum, Syeikh Safiyyurahhman Almubarakfury.

 

Penulis : Nizar Hidayatur Rahman (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi)

Murajaah :


Artikel asli: https://buletin.muslim.or.id/detik-detik-wafatnya-kekasih-tercinta/